KOMUNIKASI
RITUAL UPACARA PERKAWINAN ADAT JAWA
A.
Pendahuluan
Komunikasi adalah keterampilan yang sangat
penting dalam kehidupan manusia, dimana dapat kita lihat komunikasi dapat
terjadi pada setiap gerak langkah manusia. Pada dasarnya, manusia
adalah mahluk yang bergantung. Sehingga, tidak bias hidup secara mandiri dan
pasti membutuhkan orang lain untuk mengatasi kendala yang ada dalam
kehidupannya, sehingga manusia biasa disebut sebagai makhluk sosial. Dalam
menjalani kehidupan sosial tersebut, seseorang memerlukan sebuah fasilitas
serta cara untuk membantunya mempermudah dirinya untuk masuk pada ranah sosial tersebut.
Interaksi merupakan ungkapan yang kemudian dapat menggambarkan cara untuk
mempermudah terjadinya sebuah hubungan antara seseorang dengan orang lain, yang
kemudian diaktualisasikan melalui praktek komunikasi. Komunikasi juga ditujukan
untuk menyatukan komponen-komponen sosial yang bervariasi dan mempunyai prilaku
yang berbeda.
Komunikasi
adalah proses di mana pesan-pesan ditransfer dari sumber
kepada
penerima, baik secara langsung maupun melalui media. Memahami komunikasi
berarti memahami apa yang terjadi selama komunikasi berlangsung, mengapa itu
terjadi, manfaat apa yang dirasakan, akibat-akibat apa yang ditimbulkan, apa
tujuan dari aktivitas komunikasi, sesuai dengan apa yang diinginkan, memahami
hal-hal yang dapat mempengaruhi dan memaksimalkan hasil-hasil dari kejadian
tersebut.
Kehidupan
manusia akan tampak hampa atau tiada kehidupan sama sekali apabila tidak ada
komunikasi. Karena tanpa komunikasi, interaksi antar manusia, baik secara
perorangan, kelompok atau pun organisasi tidak mungkin dapat terjadi. Dua orang
dikatakan melakukan interaksi apabila masing-masing melakukan aksi dan reaksi.
Aksi dan reaksi yang dilakukan manusia baik dilakukan.
Dalam
kehidupan sehari-hari tindakan komunikasi ini
terus menerus terjadi selama proses kehidupannya. Komunikasi ibarat urat nadi
kehidupan manusia. Prosesnya berlangsung dalam berbagai konteks baik fisik,
psikologis maupun sosial, karena
proses komunikasi tidak terjadi pada sebuah ruang kosong. Pelaku proses
komunikasi adalah manusia yang selalu bergerak dan dinamis. Komunikasi menjadi
penting karena fungsi yang bisa dirasakan oleh pelaku komunikasi tersebut.
Indonesia yang kaya akan berbagai ragam
budaya, adat istiadat dan tradisi yang dimiliki merupakan karya budaya
pendahulu kita. Keragaman budaya ini juga mempengaruhi sikap masyarakat dalam
berkomunikasi. Salah satunya, masyarakat melaksanakan komunikasi ritual pada
upacara perkawinan adat jawa. Secara umum, meski banyak sebagian masyarakat
yang melaksanakan prosesi perkawinan adat jawa kurang memahami makna yang
terkandung pada beberapa rangkaian prosesi perkawinan adat jawa yang terkesan ribet dan njelimet. Namun dalam
hatinya pelaku komunikasi ritual perkawinan adat Jawa melakukan tahapan-tahapan
prosesi pernikahan adat jawa dengan sebuah kepercayaan ritual yang dilaksanakan
sebagai bentuk pengakuan dirinya pada masyarakat sekelilingnya sekaligus sebagai kegiatan pelestari budaya
Jawa.
B.
Mengapa
Kita Melakukan Komunikasi
Pertanyaan mengapa kita
berkomunikasi berkaitan dengan manfaat yang kita rasakan dan akibat yang
dirasakan jika tidak bisa melakukan komunikasi. Apakah seorang bisa melakukan hal ini, dalam waktu satu hari penuh seorang tidak diperbolehkan berbicara dengan siapapun. Alasan
orang melakukan komunikasi adalah sebagai berikut:
1. Untuk
bersosialisasi dengan lingkungannya
Sebagai mahluk social yang pemenuhan kebutuhan
sehari-hari mengharuskan kita keluar dari rumah dan berhubungan dengan orang
lain, membuat kita tidak bisa menghindar dari tindakan komunikasi, menyampaikan
dan menerima pesan dari dan ke orang lain.
2. Untuk
mendapatkan informasi yang berguna bagi dirinya
Tujuan
lain dari komunikasi adalah sebuah upaya yang bertujuan untuk berbagi untuk
mencapai kebersamaan. Jika dua orang berkomunikasi maka pemahaman yang sama
terhadap pesan yang salig dipertukarkan adalah tujuan yang diinginkan keduanya.
Dengan demikian seorang yang melakukan komunikasi akan mendapatkan informasi
yang berguna bagi dirinya dalam hidup bermasyarakat.
3. Untuk
membangun konsep diri,
Konsep
diri adalah pandangan tentang siapa diri kita, dan itu hanya bias kita peroleh
dari informasi yang diberikan orang lain kepada kita. Aspek-aspek konsep diri
seperti jenis kelamin, agama, kesukuan, pendidikan, pengalaman, rupa fisik,,
kita tanam kepada diri kita lewat pernyataan (umpan balik) orang lain dalam
masyarakat yang menegaskan aspek-aspek tersebut dan ini dilakukan lewat
komunikasi.
4. Untuk
aktualisasi diri,
Pernyataan eksistensi-diri/aktualisasi diri, ketika Orang
berkomunikasi untuk menunjukkan dirinya eksis, mendapat pengakuan oleh
kelompoknya. Bila berdiam diri orang mengganggap kita seolah-olah tidak ada. Seseorang
melakukan komunikasi kerena seseorang mengaktualisasi-kan diri. Jadi kalau kita
memiliki keinginan untuk maju (self actualization), maka keinginan itu perlu
diungkapkan atau dikomunikasikan, apakah itu secara terang-terangan atau
terselubung, agar orang lain dapat mengetahuinya (self disclose).
5. Untuk
kelangsungan hidup, memupuk hubungan dan Untuk memperoleh kebahagiaan,
6. Agar
terhindar dari tekanan atau ketegangan, orang melakukan komunikasi karena
merasa dirinya terhibur, nyaman, tenteram dengan diri sendiri dan orang lain.
Dua orang dapat berbicara berjam-jam dengan topic yang berganti ganti tanpa
mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Pesan yang mereka pertukarkan
mungkin remeh tetapi pembicaraan itu membuat keduanya merasa terhibur dan
senang.
C.
Fungsi Komunikasi
Komunikasi juga
merupakan salah satu fungsi dari kehidupan manusia. Fungsi komunikasi dalam
kehidupan menyangkut banyak aspek. Melalui komunikasi seseorang menyampaikan apa
yang ada dalam benak pikirannya dan/atau perasaan hati nuraninya kepada orang
lian baik secara langsung ataupun tidak langsung. Melalui komunikasi seseorang
dapat membuat dirinya untuk tidak terasing atau terisolasi dari lingkungan di
sekitarnya. Melalui komunikasi seseorang dapat mengajarkan atau memberitahukan
apa yang diketahuinya. Melalui komunikasi seseorang dapat mengetahui dan
mempelajari mengenai diri orang-orang lain dan berbagai peristiwa
Contoh di bawah ini
menunjukan bahwa komunikasi merupakan bagian dari kehidupan manusia.
1.
Seorang bayi menangis di tengah malam, maka sang ibu
memberikan susunya. Tangisan bayi merupakan cara komunikasi dengan ibunya.
2.
Seorang ibu yang mengamati poster tentang vaksinasi bayi
yang terpampang di suatu rumah sakit.
3.
Seorang bapak yang sedang membaca surat kabar di teras
rumah.
4.
Seorang guru yang sedang mengajar matematik di kelas.
5.
Banyak orang yang mendatangi tempat terjadinya pembunuhan
yang dilakukan beranti di daerah Jombang, menyusul berita-berita tentang Ryan
sebagai pelaku pembunuh mutilasi.
6.
Orang beramai-ramai menonton film Laskar Pelangi.
7.
Seorang ibu asyik bercakap-cakap melalui handphone di
terminal bus.
8.
Seorang manager berdiskusi dalam sebuat rapat dengan para
stafnya.
Contoh-contoh
di atas memberikan gambaran bahwa peristiwa komunikasi dapat terjadi dalam
berbagai konteks kehidupan manusia, mulai dari kegiatan yang bersifat
individual, diantara dua orang atau lebih, kelompok, keluarga, organisasi
melalui media dalam konteks public secara lokal, nasional, regional dan global. Jadi komunikasi
pada dasarnya merupakan kebutuhan manusia.
Fungsi
komunikasi dalam kehidupan manusia menyangkut banyak aspek. Melalui komunikasi
seseorang menyampaikan apa yang ada dalam benak pikirannya atau perasaan
hatinya terhdap orang lain baik secara langsung maupun tidak langsung.
.Deddy Mulyana dalam bukunya Ilmu komunikasi suatu pengantar mengutip Kerangka
berpikir William I. Gorden mengenai fungsi-fungsi komunikasi yang dibagi
menjadi empat bagian. Fungsi-fungsi suatu peristiwa komunikasi (communication
event) tampaknya tidak sama sekali independen, melainkan juga berkaitan dengan
fungsi-fungsi lainnya, meskipun terdapat suatu fungsi dominan.
1. Fungsi komunikasi sosial
Fungsi
komunikasi sebagai komunikasi sosial setidaknya mengisayaratkan bahwa
komunikasi itu penting membangun konsep diri kita, aktualisasi diri,
kelangsungan hidup untuk memperoleh kebahagiaan, terhindar dari tekanan dan
ketegangan, antara lain lewat komunikasi yang bersifat menghibur dan memupuk
hubungan dengan orang lain. Melalui komunikasi kita bekerjasama dalam tim pada
sebuah organisasi atau perusahaan. Misalnya setiap orang mempunyai sejumlah
hubungan dalam kehidupannya. Melalui hubungan itulah individu memainkan
peran dalam setiap hubungan tersebut. Peran yang dijalaninya dimulai dari yang
paling intim misalnya sebagai suami/istri, kekasih, ayah, karyawan, warga, dll
bebarapa hal di bawah ini berkaitan dengan atau sebagai pengaruh
ari fungsi sosial.
2. Fungsi komunikasi ekspresif
Komunikasi
ekspresif dapat dilakukan sendirian ataupun dalam kelompok. Komunikasi
ekspresif dapat dilakukan sejauh komunikasi tersebut menjadi instrumen untuk
menyampaikan perasaan-perasaan (emosi kita). Perasaan-perasaan tersebut
terutama dikomunikasikan melalui pesan-pesan non verbal. Emosi kita juga dapat
disalurkan lewat bentuk-bentuk seni seperti puisi, novel, musik, tarian atau
lukisan.
3. Fungsi komunikasi ritual
Komunikasi
ritual sering dilakukan secara kolektif. Suatu komunitas sering melakukan upacara-upacara
berlainan sepanjang tahun dan sepanjang hidup mulai dari upacara kelahiran,
sunatan, ulang tahun, pertunangan, lamaran, ulang tahun perkawinan bahkan
upacara kematian. Mereka yang berpartisipasi dalam bentuk komunikasi ritual
tersebut menegaskan kembali komitmen mereka kepada tradisi keluarga, suku,
bangsa, negara, ideologi atau agama mereka. Kegiatan ritual memungkinkan para
pesertanya berbagi komitmen emosional dan menjadi perekat bagi kepaduan mereka,
juga sebagai pengabdian kepada kelompok. Bukanlah substansi kegiatan ritual itu
sendiri yang terpenting, melainkan perasaan senasib sepenanggungan yang
menyertainya, perasaan bahwa kita terikat oleh sesuatu yang lebih besar
daripada kita sendiri, yang bersifat abadi dan bahwa kita diakui dan diterima
dalam kelompok kita.
4. Fungsi komunikasi instrumental
Komunikasi
instrumental mempunyai beberapa tujuan umum: menginformasikan, mengajar,
mendorong, mengubah sikap dan keyakinan dan mengubah perilaku atau menggerakkan
tindakan dan juga untuk menghibur. Sebagai instrumen, komunikasi tidak saja
kita gunakan untuk menciptakan dan membangun hubungan, namun juga untuk
menghancurkan hubungan tersebut. Studi komunikasi membuat kita peka terhadap
berbagai strategi yang dapat kita gunakan dalam komunikasi kita untuk bekerja
lebih baik dengan orang lain demi keuntungan bersama. Komunikasi sebagai
instrumen untuk mencapai tujuan-tujuan pribadi dan pekerjaan, baik tujuan
jangka pendek ataupun tujuan jangka panjang.
Suatu peristiwa komunikasi sesungguhnya seringkali
mempunyai fungsi-fungsi tumpang tindih, meskipun salah satu fungsinya sangat
menonjol dan mendominasi. Ini menandakan bahwa komunikasi bukanlah kegiatan
yang bersifat terpisah-pisah tapi komunikasi merupakan suatu keseluruhan yang
berlangsung tanpa akhir.
Berdasarkan
pengamatan yang mereka lakukan, para pakar komunikasi mengemukakan
fungsi-fungsi yang berbeda meskipun ada kalanya terdapat kesamaan dan tumpang
tindih diantara berbagai pendapat tersebut. Thomas M. Scheidel mengemukakan
bahwa kita berkomunikasi terutama untuk menyatakan dan mendukung
identitas-diri, untuk membangun kontak sosial dengan orang
disekitar kita, dan untuk mempengaruhi orang lain untuk merasa, berfikir atau
berperilaku seperti yang kita inginkan. Namun menurut Scheidel tujuan dasar
kita berkomunikasi adalah untuk mengendalikan lingkungan fisik dan psikologis
kita.
Ada empat fungsi komunikasi berdasarkan kerangka yang
dikemukakan oleh William I.Gorden. Keempat fungsi tersebut yakni komunikasi
sosial, komunikasi ekspresif, komunikasi ritual, dan komunikasi instrumental,
tidak saling meniadakan (mutually exclusive). Fungsi suatu peristiwa
komunikasi (communication event) tampaknya tidak sama sekali independen,
melainkan juga berkaitan dengan fungsi-fungsi lainnya, meskipun terdapat suatu
fungsi yang dominan.
D.
Prosesi Pernikahan Adat
Jawa
Perkawinan adat sangat bermacam-macam. Pada
prosesi perkawinan dengan adat Jawa terjadi peristiwa komunikasi yang dilakukan
sekelompok orang baik secara verbal maupun non verbal. Perkawinan adat Jawa ini
telah turun temurun dari nenek moyang masyarakat Jawa, sehingga pelaku
perkawinan ingin menunjukkan kepada masyarakat di lingkungannya bahwa mereka
akan mengakui kalau si pelaku ada. Dia ingin menunjukkan eksistensinya pada
masyarakat di lingkungannya. Selain itu pelaku ingin melestarikan budaya adat
perkawinan tersebut meski si pelaku kadang tidak memahami maksud
prosesi-prosesi yang dia laksanakan.
Perkawinan adat Jawa melambangkan
pertemuan antara pengantin wanita yang cantik dan pengantin pria yang gagah
dalam suatu suasana yang khusus sehingga pengantin pria dan pengantin wanita
seperti menjadi raja dan ratu sehari. Biasanya perkawinan ini diadakan di rumah
orang tua pengantin wanita, orang tua dari pengantin wanitalah yang
menyelenggarakan upacara pernikahan ini. Pihak pengantin laki-laki membantu
agar upacara pernikahan ini bisa berlangsung dengan baik.
Adapun berbagai macam acara
serta upacara yang harus dilakukan menurut perkawinan ada Jawa adalah:
1.
Lamaran
Jika keduanya sudah merasa cocok, maka orang tua
pengantin laki-laki mengirim utusan ke orang tua pengantin perempuan untuk
melamar puteri mereka. Orang tua dari kedua pengantin telah menyetujui lamaran
perkawinan. Pada prosesi ini biasanya ditandai dengan tukar cincin dan
seperangkat perlengkapan untuk calon pengantin wanita. Tahapan ini terjadi komunikasi
yang mengandung arti bahwa kedua keluarga
telah ada kata sepakat untuk menikahkan putra-putri mereka dengan
ditandai oleh cincin yang terpasang di jari kedua calon mempelai.
2. Pemasangan
dekorasi
Biasanya sehari sebelum pesta pernikahan, pintu gerbang
dari rumah orangtua wanita dihias dengan Tarub
(dekorasi tumbuhan), Yang terdiri dari pohon pisang, buah pisang, tebu, buah
kelapa dan daun beringin. Pada prosesi ini terjadi komunikasi yang memiliki makna agar pasangan pengantin akan hidup baik dan
bahagia dimana saja. Pasangan pengantin saling cinta satu sama lain dan akan
merawat keluarga mereka.
3.
Upacara Siraman
Pesta Siraman ini biasanya diadakan di siang hari, sehari
sebelum acara pernikahan. Siraman diadakan di rumah orangtua pengantin masing-masing.
Siraman biasanya dilakukan di kamar mandi atau di taman. Airnya merupakan campuran dari
kembang setaman yang disebut Banyu Perwitosari yang jika memungkinkan diambil
dari 7 mata air. Diawali siraman oleh orang tua calon pengantin, acara siraman
ditutup oleh siraman pemaes yang kemudian memecahkan kendi. Biasanya
orang yang melakukan Siraman yaitu orangtua dan keluarga dekat atau orang yang
dituakan. Makna komunikasi ritual yang
terkandung pada prosesi pesta Siraman
adalah untuk membersihkan jiwa dan raga sehingga jiwa dan raganya menjadi harum
seharum bunga yang digunakan untuk
prosesi siraman ini.
4. Upacara
Midodareni
Biasanya pengantin wanita harus tinggal di kamar dari jam
enam sore sampai tengah malam dan ditemani oleh keluarga atau kerabat dekat
perempuannya. Biasanya mereka akan memberi saran dan nasihat. Keluarga dan
teman dekat dari pengantin wanita akan datang berkunjung, dan semuanya harus
wanita.
5.
Upacara
Ijab Kabul
Orang Jawa biasanya bicara lahir, menikah, dan meninggal
adalah takdir Tuhan. Upacara Ijab merupakan syarat yang paling penting dalam
mengesahkan pernikahan. Pelaksanaan dari Ijab sesuai dengan agama dari pasangan
pengantin. Pada saat ijab orang tua pengantin perempuan menikahkan anaknya
kepada pengantin pria. Dan pengantin pria menerima nikahnya pengantin wanita
yang disertai dengan penyerahan mas kawin bagi pengantin wanita. Pada saat ijab
ini akan disaksikan oleh Penghulu atau pejabat pemerintah yang akan mencatat
pernikahan mereka. Prosesi ini adalah
yang terpenting sebab pada tahapan ini terjadi komunikasi dengan sang Pencipta,
sesuatu yang semula diharamkan menjadi halal untuk dilakukan karena telah
terikat pada pernikahan.
6.
Upacara
panggih
Pertemuan antara pengantin wanita yang cantik dengan
pengantin laki-laki yang tampan di depan rumah yang di hias dengan tanaman
Tarub. Pengantin laki-laki di antar oleh keluarganya, tiba di rumah dari
orangtua pengantin wanita dan berhenti di depan pintu gerbang. Pengantin
wanita, diantar oleh dua wanita yang dituakan, berjalan keluar dari kamar
pengantin. Orangtuanya dan keluarga dekat berjalan di belakangnya. Kembang mayang yang dibawa keluar
rumah dan diletakan di persimpangan dekat rumah yang tujuannya untuk mengusir
roh jahat.
7.
Upacara
balangan suruh
Pengantin wanita bertemu dengan pengantin laki-laki.
Mereka mendekati satu sama lain, jaraknya sekitar tiga meter. Mereka mulai
melempar sebundel daun betel dengan jeruk di dalamnya bersama dengan benang
putih. Mereka melakukannya dengan keinginan besar dan kebahagian, semua orang
tersenyum bahagia. Menurut kepercayaan kuno, daun betel mempunyai kekuatan
untuk menolak dari gangguan buruk. Dengan melempar daun betel satu sama lain, itu akan mencoba bahwa mereka
benar-benar orang yang sejati, bukan setan atau orang lain yang menganggap
dirinya sebagai pengantin laki-laki atau perempuan.
8.
Upacara
wiji dadi
Pengantin laki-laki menginjak telur dengan kaki kanannya.
Pengantin perempuan mencuci kaki pengantin laki-laki dengan menggunakan air
dicampur dengan bermacam-macam bunga. Itu mengartikan, bahwa pengantin
laki-laki siap untuk menjadi ayah serta suami yang bertangung jawab dan
pengantin perempuan akan melayani setia suaminya.
9.
Upacara
Pupuk
Ibu mempelai perempuan yang mengusap mempelai laki-laki
sebagai tanda ikhlas menerimanya sebagai bagian dari keluarga.
10. Upacara Sinduran
Berjalan
perlahan-lahan dengan menyampirkan kain sindur sebagai tanda bahwa kedua
mempelai sudah diterima sebagai keluarga.
11.
Upacara
Timbang
Kedua mempelai duduk di pangkuan bapak mempelai perempuan
sebagai tanda kasih sayang orang tua terhadap anak dan menantu sama besarnya. Orang
tua tidak akan membeda-bedakan antara anak menantu dan anak sendiri, semua
dianggap sebagai puteranya sendiri.
12.
Upacara
Kacar-kucur
Kacar-kucur yang dituangkan ke pangkuan perempuan sebagai
simbol pemberian nafkah. Komunikasi yang
menggambarkan bahwa seorang laki-laki mempunyai kewajiban menyerahkan semua
hasil usahanya kepada istrinya, dan istri harus dapat memgelola penghasilan
suaminya untuk keperluan keluarganya.
13.
Upacara
dahar kembul
Pasangan pengantin makan bersama dan menyuapi satu sama
lain. Pertama, pengantin laki-laki membuat tiga bulatan kecil dari nasi dengan
tangan kanannya dan diberinya ke pengantin wanita. Setelah pengantin wanita
memakannya, dia melakukan sama untuk suaminya. Setelah mereka selesai, mereka
minum teh manis. Upacara itu melukiskan bahwa pasangan akan menggunakan dan
menikmati hidup bahagia satu sama lain. Saling menyuapi satu sama lain yang
melambangkan kedua mempelai akan hidup bersama dalam susah dan senang
14.
Upacara
Mertui
orang tua mempelai perempuan menjemput orang
tua mempelai laki-laki di depan rumah untuk berjalan bersama menuju tempat
upacara. Hak ini melambangkan bahwa keluarga laki-laki dan keluarga perempuan
telah menjadi besan (keluarga) dan bersama-sama menyaksikan dan member doa
restu untuk kebahagiaan kedua putra mereka
15.
Upacara
sungkeman
Kedua mempelai bersujut kepada kedua orangtua untuk mohon
doa restu dari orangtua mereka masing-masing. Pertama ke orangtua pengantin
wanita, kemudian ke orangtua pengantin laki-laki. Selama Sungkeman sedang
berlangsung, Pemaes mengambil keris dari pengantin laki-laki. Setelah
Sungkeman, pengantin laki-laki memakai kembali kerisnya.
Prosesi ini sebagai pengingat pada temanten putri, supaya
selalu berbakti kepada mempalai pria. Sebaliknya temanten putra supaya
mempunyai rasa melindungi (hangayomi) dengan memberi contoh tindak-tanduk yang
baik kepada temanten putri.
16.
Pesta
pernikahan
Setelah upacara pernikahan selesai, selanjutnya diakhiri
dengan pesta pernikahan. Menerima ucapan selamat dari para tamu dan undangan.
Mungkin ini bagian dari kebahagiaan ke dua mempelai dengan para tamu, keluarga
serta para undangan. Prossi ini sebagai
penanda supaya perkawninan kedua mempelai disaksikan dan diakui oleh masyarakat
lingkungannya.
E. Manfaat
yang Diperoleh
Manfaat yang diperoleh dengan mengadakan komunikasi
ritual upacara perkawinan adat Jawa
adalah sebagai berikut:
1. Mendapatkan
ketenangan
Pelaku ritual upacara
perkawinan pada dasarnya adalah ungkapan doa agar apa yang dilakukan mendapat
ridho dari pencipta. Dengan simbol-simbol permohonan tersebut pelaku berharap
apa yang dicitakan akan terwujud. Dengan demikian setelah pelaku melaksanakan
akan mendapatkan tetenangan karena ia merasa telah berusaha untuk mencapai yang
dia citakan.
2. Mendapatkan
pengakuan
Pelaku komunikas
ritual upacara perkawinan mendapatkan pengakuan dari masyarakat bahwa si pelaku telah memasuki tahapan hidup
baru yaitu hidup berpasangan (berkeluarga) sehingga pasangan masing-masing akan
diterima di komunitas masyarakat sekitarnya.
3. Pelastarian
budaya,
Mereka yang berpartisipasi dalam bentuk
komunikasi ritual tersebut menegaskan kembali komitmen mereka kepada tradisi
keluarga, suku, bangsa, idiologi dan agama mereka.
4. Mengenalkan
diri sendiri,
Dengan melaksanakan
komunikasi ritual upacara perkawinan pelaku akan dikenal oleh masyarakat di lingkungannya bahwa yang bersangkutan
telah berkeluarga. Pasangan yang semula belum dikenal oleh masyarakat di
sekitarnya menjadi diketahui sehingga tidak menimbulkan kecurigaan.
5. Dapat
menyampaikan pikiran atau perasaannya
6. Tidak
terasing atau terisolasi dari lingkungannya
F.
Faktor Pendorong
Faktor yang mendorong orang melakukan komunikasi ritual upacara
perkawinan dengan adat Jawa adalah:
1. Keinginan
untuk mendapatkan doa dan restu agar perkawinan yang dilaksanakan dapat
berjalan sesuai yang diinginkan dan kelak kebahagian dapat mereka raih.
2. Keinginan
untuk mengaktualisasi diri dengan harapan mereka diterima sebagai anggota dari
kelompok masyarakat dimana mereka tinggal.
3. Keinginan
untuk melestarikan budaya dari peninggalan para pendahulu mereka supaya tetap
eksis di masyarakat.
4. Untuk
memperoleh pengakuan di masyarakat bahwa mereka telah berpasangan.
5. Kepercayaan
terhadap agama, mistis, dan budaya yang mereka anut.
G.
Kesimpulan
Komunikasi
ritual sangat erat kaitannya dengan budaya yang ada masyarakat. Pada prosesi
upacara perkawinan adat jawa tahap demi tahap merupakan wujud komunikasi, yang
erat kaitannya dengan simbul-simbul baik berupa benda, perbuatan, ataupun
kata-kata, yang disampaikan dengan harapan tertentu. Mereka mengharapkan
sesuatu dari upacara ritual yang dilaksanakan.
Kegiatan komunikasi ritual memungkinkan para pesertanya
berbagi komitmen emosional dan menjadi perekat bagi keterpaduan mereka.Yang
menjadi esensi bukanlah kegiatan ritualnya, akan tetapi adanya perasaan senasib
sepenanggungan yang menyertainya, artinya adanya perasaan bahwa kita terikat
oleh sesuatu yang lebih besar dari diri kita, dan bahwa diri kita diakui dan
diterima oleh kelompok kita.
Komunikasi ritual
ini bisa jadi akan tetap ada sepanjang zaman, karena ia merupakan kebutuhan
manusia, meskipun bentuknya berubah-ubah demi pemenuhan kebutuhan dirinya
sebagai mahluk individu, anggota komunitas tertentu, mahluk sosial, dan sebagai
salah satu bagian dari alam semesta.
Pelaku
komunikasi ritual upacara perkawinan adat Jawa yang merupakan warisan leluhur mereka harus
dapat mereka lestarikan. Komunikasi ritual yang terkait dengan kebudayaan dan
langkah-langkah pelestariannya harus terus meraka galakkan dan satu hal yang paling penting yang
harus kita catat kita harus bisa menanamkan kesadaran kepada setiap individu
bahwa kebudayaan yang kita nikmati sekarang harus pula dinikmati oleh anak cucu
kita kelak dimasa yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
Cangara, Hafied, Prof, Dr. 2008. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: PT.
Raja Grafindo.
Erpina,
Epi dkk. 2009. Macam-Macam Komunikasi. Makalah. Bogor: Univeritas Ibn Khaldun
Bogor.
http://sukolaras.wordpress.com
(12 Oktober 2009) Prosesi Pernikahan Adat
Jawa
Mulyana,
Akhmad. 2008. Pengantar Ilmu Komunikasi. Modul. Jakarta: Fakultas ilmu
Komunikasi Universitas Mercu Buana Jakarta.
Mulyana,
Deddy. 2002. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Padje,
Gut Reacht Hayat. 2008. Komunikasi
Kontemporer: Strategi, Konsepsi, dan Sejarah. Kupang: Universitas PGRI NTT.
Riswandi.
2008. Pengantar Ilmu Komunikasi. Modul 2. Jakarta: Fakultas ilmu Komunikasi
Universitas Mercu Buana Jakarta.