Jumat, 21 Juni 2013

komunikasi ritual



KOMUNIKASI RITUAL UPACARA PERKAWINAN ADAT JAWA


A.     Pendahuluan
Komunikasi adalah keterampilan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, dimana dapat kita lihat komunikasi dapat terjadi pada setiap gerak langkah manusia.  Pada dasarnya, manusia adalah mahluk yang bergantung. Sehingga, tidak bias hidup secara mandiri dan pasti membutuhkan orang lain untuk mengatasi kendala yang ada dalam kehidupannya, sehingga manusia biasa disebut sebagai makhluk sosial. Dalam menjalani kehidupan sosial tersebut, seseorang memerlukan sebuah fasilitas serta cara untuk membantunya mempermudah dirinya untuk masuk pada ranah sosial tersebut. Interaksi merupakan ungkapan yang kemudian dapat menggambarkan cara untuk mempermudah terjadinya sebuah hubungan antara seseorang dengan orang lain, yang kemudian diaktualisasikan melalui praktek komunikasi. Komunikasi juga ditujukan untuk menyatukan komponen-komponen sosial yang bervariasi dan mempunyai prilaku yang berbeda.
Komunikasi adalah proses di mana pesan-pesan ditransfer dari sumber
kepada penerima, baik secara langsung maupun melalui media. Memahami komunikasi berarti memahami apa yang terjadi selama komunikasi berlangsung, mengapa itu terjadi, manfaat apa yang dirasakan, akibat-akibat apa yang ditimbulkan, apa tujuan dari aktivitas komunikasi, sesuai dengan apa yang diinginkan, memahami hal-hal yang dapat mempengaruhi dan memaksimalkan hasil-hasil dari kejadian tersebut.
Kehidupan manusia akan tampak hampa atau tiada kehidupan sama sekali apabila tidak ada komunikasi. Karena tanpa komunikasi, interaksi antar manusia, baik secara perorangan, kelompok atau pun organisasi tidak mungkin dapat terjadi. Dua orang dikatakan melakukan interaksi apabila masing-masing melakukan aksi dan reaksi. Aksi dan reaksi yang dilakukan manusia baik dilakukan.
Dalam kehidupan sehari-hari tindakan komunikasi ini terus menerus terjadi selama proses kehidupannya. Komunikasi ibarat urat nadi kehidupan manusia. Prosesnya berlangsung dalam berbagai konteks baik fisik, psikologis maupun sosial, karena proses komunikasi tidak terjadi pada sebuah ruang kosong. Pelaku proses komunikasi adalah manusia yang selalu bergerak dan dinamis. Komunikasi menjadi penting karena fungsi yang bisa dirasakan oleh pelaku komunikasi tersebut.
Indonesia yang kaya akan berbagai ragam budaya, adat istiadat dan tradisi yang dimiliki merupakan karya budaya pendahulu kita. Keragaman budaya ini juga mempengaruhi sikap masyarakat dalam berkomunikasi. Salah satunya, masyarakat melaksanakan komunikasi ritual pada upacara perkawinan adat jawa. Secara umum, meski banyak sebagian masyarakat yang melaksanakan prosesi perkawinan adat jawa kurang memahami makna yang terkandung pada beberapa rangkaian prosesi perkawinan adat jawa  yang terkesan ribet dan njelimet. Namun dalam hatinya pelaku komunikasi ritual perkawinan adat Jawa melakukan tahapan-tahapan prosesi pernikahan adat jawa dengan sebuah kepercayaan ritual yang dilaksanakan sebagai bentuk pengakuan dirinya pada masyarakat sekelilingnya  sekaligus sebagai kegiatan pelestari budaya Jawa. 


B.    Mengapa Kita Melakukan Komunikasi
Pertanyaan mengapa kita berkomunikasi berkaitan dengan manfaat yang kita rasakan dan akibat yang dirasakan jika tidak bisa melakukan komunikasi. Apakah seorang bisa melakukan hal ini, dalam waktu satu hari penuh seorang tidak diperbolehkan berbicara dengan siapapun. Alasan orang melakukan komunikasi adalah sebagai berikut:
1.    Untuk bersosialisasi dengan lingkungannya
Sebagai mahluk social yang pemenuhan kebutuhan sehari-hari mengharuskan kita keluar dari rumah dan berhubungan dengan orang lain, membuat kita tidak bisa menghindar dari tindakan komunikasi, menyampaikan dan menerima pesan dari dan ke orang lain.
2.    Untuk mendapatkan informasi yang berguna bagi dirinya
Tujuan lain dari komunikasi adalah sebuah upaya yang bertujuan untuk berbagi untuk mencapai kebersamaan. Jika dua orang berkomunikasi maka pemahaman yang sama terhadap pesan yang salig dipertukarkan adalah tujuan yang diinginkan keduanya. Dengan demikian seorang yang melakukan komunikasi akan mendapatkan informasi yang berguna bagi dirinya dalam hidup bermasyarakat.
3.    Untuk membangun konsep diri,
Konsep diri adalah pandangan tentang siapa diri kita, dan itu hanya bias kita peroleh dari informasi yang diberikan orang lain kepada kita. Aspek-aspek konsep diri seperti jenis kelamin, agama, kesukuan, pendidikan, pengalaman, rupa fisik,, kita tanam kepada diri kita lewat pernyataan (umpan balik) orang lain dalam masyarakat yang menegaskan aspek-aspek tersebut dan ini dilakukan lewat komunikasi.
4.    Untuk aktualisasi diri,
Pernyataan eksistensi-diri/aktualisasi diri, ketika Orang berkomunikasi untuk menunjukkan dirinya eksis, mendapat pengakuan oleh kelompoknya. Bila berdiam diri orang mengganggap kita seolah-olah tidak ada. Seseorang melakukan komunikasi kerena seseorang mengaktualisasi-kan diri. Jadi kalau kita memiliki keinginan untuk maju (self actualization), maka keinginan itu perlu diungkapkan atau dikomunikasikan, apakah itu secara terang-terangan atau terselubung, agar orang lain dapat mengetahuinya (self disclose).
5.    Untuk kelangsungan hidup, memupuk hubungan dan Untuk memperoleh kebahagiaan,
6.    Agar terhindar dari tekanan atau ketegangan, orang melakukan komunikasi karena merasa dirinya terhibur, nyaman, tenteram dengan diri sendiri dan orang lain. Dua orang dapat berbicara berjam-jam dengan topic yang berganti ganti tanpa mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Pesan yang mereka pertukarkan mungkin remeh tetapi pembicaraan itu membuat keduanya merasa terhibur dan senang.
C.    Fungsi Komunikasi
Komunikasi juga merupakan salah satu fungsi dari kehidupan manusia. Fungsi komunikasi dalam kehidupan menyangkut banyak aspek. Melalui komunikasi seseorang menyampaikan apa yang ada dalam benak pikirannya dan/atau perasaan hati nuraninya kepada orang lian baik secara langsung ataupun tidak langsung. Melalui komunikasi seseorang dapat membuat dirinya untuk tidak terasing atau terisolasi dari lingkungan di sekitarnya. Melalui komunikasi seseorang dapat mengajarkan atau memberitahukan apa yang diketahuinya. Melalui komunikasi seseorang dapat mengetahui dan mempelajari mengenai diri orang-orang lain dan berbagai peristiwa            
Contoh di bawah ini menunjukan bahwa komunikasi merupakan bagian dari kehidupan manusia.
1.     Seorang bayi menangis di tengah malam, maka sang ibu memberikan susunya. Tangisan bayi merupakan cara komunikasi dengan ibunya.
2.   Seorang ibu yang mengamati poster tentang vaksinasi bayi yang terpampang di suatu rumah sakit.
3.   Seorang bapak yang sedang membaca surat kabar di teras rumah.
4.   Seorang guru yang sedang mengajar matematik di kelas.
5.   Banyak orang yang mendatangi tempat terjadinya pembunuhan yang dilakukan beranti di daerah Jombang, menyusul berita-berita tentang Ryan sebagai pelaku pembunuh mutilasi.
6.   Orang beramai-ramai menonton film Laskar Pelangi.
7.   Seorang ibu asyik bercakap-cakap melalui handphone di terminal bus.
8.   Seorang manager berdiskusi dalam sebuat rapat dengan para stafnya.
Contoh-contoh di atas memberikan gambaran bahwa peristiwa komunikasi dapat terjadi dalam berbagai konteks kehidupan manusia, mulai dari kegiatan yang bersifat individual,  diantara dua orang atau lebih, kelompok, keluarga, organisasi melalui media dalam konteks public secara lokal, nasional, regional dan global.  Jadi komunikasi pada dasarnya merupakan kebutuhan manusia.
            Fungsi komunikasi dalam kehidupan manusia menyangkut banyak aspek. Melalui komunikasi seseorang menyampaikan apa yang ada dalam benak pikirannya atau perasaan hatinya terhdap orang  lain baik secara langsung maupun tidak langsung. .Deddy Mulyana dalam bukunya Ilmu komunikasi suatu pengantar mengutip Kerangka berpikir William I. Gorden mengenai fungsi-fungsi komunikasi yang dibagi menjadi empat bagian. Fungsi-fungsi suatu peristiwa komunikasi (communication event) tampaknya tidak sama sekali independen, melainkan juga berkaitan dengan fungsi-fungsi lainnya, meskipun terdapat suatu fungsi dominan.
1.    Fungsi komunikasi sosial
Fungsi komunikasi sebagai komunikasi sosial setidaknya mengisayaratkan bahwa komunikasi itu penting membangun konsep diri kita, aktualisasi diri, kelangsungan hidup untuk memperoleh kebahagiaan, terhindar dari tekanan dan ketegangan, antara lain lewat komunikasi yang bersifat menghibur dan memupuk hubungan dengan orang lain. Melalui komunikasi kita bekerjasama dalam tim pada sebuah organisasi atau perusahaan. Misalnya setiap orang mempunyai sejumlah hubungan dalam kehidupannya.  Melalui hubungan itulah individu memainkan peran dalam setiap hubungan tersebut. Peran yang dijalaninya dimulai dari yang paling intim misalnya sebagai suami/istri, kekasih, ayah, karyawan, warga, dll  bebarapa hal di bawah ini berkaitan dengan  atau sebagai pengaruh ari fungsi sosial. 
2.    Fungsi komunikasi ekspresif
Komunikasi ekspresif dapat dilakukan sendirian ataupun dalam kelompok. Komunikasi ekspresif dapat dilakukan sejauh komunikasi tersebut menjadi instrumen untuk menyampaikan perasaan-perasaan  (emosi kita). Perasaan-perasaan tersebut terutama dikomunikasikan melalui pesan-pesan non verbal. Emosi kita juga dapat disalurkan lewat bentuk-bentuk seni seperti puisi, novel, musik, tarian atau lukisan.
3.    Fungsi komunikasi ritual
Komunikasi ritual sering dilakukan secara kolektif. Suatu komunitas sering melakukan upacara-upacara berlainan sepanjang tahun dan sepanjang hidup mulai dari upacara kelahiran, sunatan, ulang tahun, pertunangan, lamaran, ulang tahun perkawinan bahkan upacara kematian. Mereka yang berpartisipasi dalam bentuk komunikasi ritual tersebut menegaskan kembali komitmen mereka kepada tradisi keluarga, suku, bangsa, negara, ideologi atau agama mereka. Kegiatan ritual memungkinkan para pesertanya berbagi komitmen emosional dan menjadi perekat bagi kepaduan mereka, juga sebagai pengabdian kepada kelompok. Bukanlah substansi kegiatan ritual itu sendiri yang terpenting, melainkan perasaan senasib sepenanggungan yang menyertainya, perasaan bahwa kita terikat oleh sesuatu yang lebih besar daripada kita sendiri, yang bersifat abadi dan bahwa kita diakui dan diterima dalam kelompok kita.
4.    Fungsi komunikasi instrumental
Komunikasi instrumental  mempunyai beberapa tujuan umum: menginformasikan, mengajar, mendorong, mengubah sikap dan keyakinan dan mengubah perilaku atau menggerakkan tindakan dan juga untuk menghibur. Sebagai instrumen, komunikasi tidak saja kita gunakan untuk menciptakan dan membangun hubungan, namun juga untuk menghancurkan hubungan tersebut. Studi komunikasi membuat kita peka terhadap berbagai strategi yang dapat kita gunakan dalam komunikasi kita untuk bekerja lebih baik dengan orang lain demi keuntungan bersama. Komunikasi sebagai instrumen untuk mencapai tujuan-tujuan pribadi dan pekerjaan, baik tujuan jangka pendek ataupun tujuan jangka panjang.
 Suatu peristiwa komunikasi sesungguhnya seringkali mempunyai fungsi-fungsi tumpang tindih, meskipun salah satu fungsinya sangat menonjol dan mendominasi. Ini menandakan bahwa komunikasi bukanlah kegiatan yang bersifat terpisah-pisah tapi komunikasi merupakan suatu keseluruhan yang berlangsung tanpa akhir.
Berdasarkan pengamatan yang mereka lakukan, para pakar komunikasi mengemukakan fungsi-fungsi yang berbeda meskipun ada kalanya terdapat kesamaan dan tumpang tindih diantara berbagai pendapat tersebut. Thomas M. Scheidel mengemukakan bahwa kita berkomunikasi terutama untuk menyatakan dan mendukung identitas-diri, untuk membangun   kontak sosial dengan  orang disekitar kita, dan untuk mempengaruhi orang lain untuk merasa, berfikir atau berperilaku seperti yang kita inginkan. Namun menurut Scheidel tujuan dasar kita berkomunikasi adalah untuk mengendalikan lingkungan fisik dan psikologis kita.
 Ada empat fungsi komunikasi berdasarkan kerangka yang dikemukakan oleh William I.Gorden. Keempat fungsi tersebut yakni komunikasi sosial, komunikasi ekspresif, komunikasi ritual, dan komunikasi instrumental, tidak saling meniadakan (mutually exclusive). Fungsi suatu peristiwa komunikasi (communication event) tampaknya tidak sama sekali independen, melainkan juga berkaitan dengan fungsi-fungsi lainnya, meskipun terdapat suatu fungsi yang dominan.
D.    Prosesi Pernikahan Adat Jawa
Perkawinan adat sangat bermacam-macam. Pada prosesi perkawinan dengan adat Jawa terjadi peristiwa komunikasi yang dilakukan sekelompok orang baik secara verbal maupun non verbal. Perkawinan adat Jawa ini telah turun temurun dari nenek moyang masyarakat Jawa, sehingga pelaku perkawinan ingin menunjukkan kepada masyarakat di lingkungannya bahwa mereka akan mengakui kalau si pelaku ada. Dia ingin menunjukkan eksistensinya pada masyarakat di lingkungannya. Selain itu pelaku ingin melestarikan budaya adat perkawinan tersebut meski si pelaku kadang tidak memahami maksud prosesi-prosesi yang dia laksanakan.
Perkawinan adat Jawa melambangkan pertemuan antara pengantin wanita yang cantik dan pengantin pria yang gagah dalam suatu suasana yang khusus sehingga pengantin pria dan pengantin wanita seperti menjadi raja dan ratu sehari. Biasanya perkawinan ini diadakan di rumah orang tua pengantin wanita, orang tua dari pengantin wanitalah yang menyelenggarakan upacara pernikahan ini. Pihak pengantin laki-laki membantu agar upacara pernikahan ini bisa berlangsung dengan baik.
Adapun berbagai macam acara serta upacara yang harus dilakukan menurut perkawinan ada Jawa adalah:
1.      Lamaran
Jika keduanya sudah merasa cocok, maka orang tua pengantin laki-laki mengirim utusan ke orang tua pengantin perempuan untuk melamar puteri mereka. Orang tua dari kedua pengantin telah menyetujui lamaran perkawinan. Pada prosesi ini biasanya ditandai dengan tukar cincin dan seperangkat perlengkapan untuk calon pengantin wanita. Tahapan ini terjadi komunikasi yang mengandung arti bahwa kedua keluarga  telah ada kata sepakat untuk menikahkan putra-putri mereka dengan ditandai oleh cincin yang terpasang di jari kedua calon mempelai.
2.      Pemasangan dekorasi
Biasanya sehari sebelum pesta pernikahan, pintu gerbang dari rumah orangtua wanita dihias dengan Tarub (dekorasi tumbuhan), Yang terdiri dari pohon pisang, buah pisang, tebu, buah kelapa dan daun beringin. Pada prosesi ini terjadi komunikasi yang  memiliki makna  agar pasangan pengantin akan hidup baik dan bahagia dimana saja. Pasangan pengantin saling cinta satu sama lain dan akan merawat keluarga mereka.
3.      Upacara Siraman
Pesta Siraman ini biasanya diadakan di siang hari, sehari sebelum acara pernikahan. Siraman diadakan di rumah orangtua pengantin masing-masing. Siraman biasanya dilakukan di kamar mandi atau di taman. Airnya merupakan campuran dari kembang setaman yang disebut Banyu Perwitosari yang jika memungkinkan diambil dari 7 mata air. Diawali siraman oleh orang tua calon pengantin, acara siraman ditutup oleh siraman pemaes yang kemudian memecahkan kendi. Biasanya orang yang melakukan Siraman yaitu orangtua dan keluarga dekat atau orang yang dituakan.  Makna komunikasi ritual yang terkandung pada prosesi  pesta Siraman adalah untuk membersihkan jiwa dan raga sehingga jiwa dan raganya menjadi harum seharum  bunga yang digunakan untuk prosesi siraman ini.
4.      Upacara Midodareni
Biasanya pengantin wanita harus tinggal di kamar dari jam enam sore sampai tengah malam dan ditemani oleh keluarga atau kerabat dekat perempuannya. Biasanya mereka akan memberi saran dan nasihat. Keluarga dan teman dekat dari pengantin wanita akan datang berkunjung, dan semuanya harus wanita.
5.      Upacara Ijab Kabul
Orang Jawa biasanya bicara lahir, menikah, dan meninggal adalah takdir Tuhan. Upacara Ijab merupakan syarat yang paling penting dalam mengesahkan pernikahan. Pelaksanaan dari Ijab sesuai dengan agama dari pasangan pengantin. Pada saat ijab orang tua pengantin perempuan menikahkan anaknya kepada pengantin pria. Dan pengantin pria menerima nikahnya pengantin wanita yang disertai dengan penyerahan mas kawin bagi pengantin wanita. Pada saat ijab ini akan disaksikan oleh Penghulu atau pejabat pemerintah yang akan mencatat pernikahan mereka.  Prosesi ini adalah yang terpenting sebab pada tahapan ini terjadi komunikasi dengan sang Pencipta, sesuatu yang semula diharamkan menjadi halal untuk dilakukan karena telah terikat pada pernikahan.
6.      Upacara panggih
Pertemuan antara pengantin wanita yang cantik dengan pengantin laki-laki yang tampan di depan rumah yang di hias dengan tanaman Tarub. Pengantin laki-laki di antar oleh keluarganya, tiba di rumah dari orangtua pengantin wanita dan berhenti di depan pintu gerbang. Pengantin wanita, diantar oleh dua wanita yang dituakan, berjalan keluar dari kamar pengantin. Orangtuanya dan keluarga dekat berjalan di belakangnya. Kembang mayang yang dibawa keluar rumah dan diletakan di persimpangan dekat rumah yang tujuannya untuk mengusir roh jahat.
7.      Upacara balangan suruh
Pengantin wanita bertemu dengan pengantin laki-laki. Mereka mendekati satu sama lain, jaraknya sekitar tiga meter. Mereka mulai melempar sebundel daun betel dengan jeruk di dalamnya bersama dengan benang putih. Mereka melakukannya dengan keinginan besar dan kebahagian, semua orang tersenyum bahagia. Menurut kepercayaan kuno, daun betel mempunyai kekuatan untuk menolak dari gangguan buruk. Dengan melempar daun betel satu sama lain, itu akan mencoba bahwa mereka benar-benar orang yang sejati, bukan setan atau orang lain yang menganggap dirinya sebagai pengantin laki-laki atau perempuan.
8.      Upacara wiji dadi
Pengantin laki-laki menginjak telur dengan kaki kanannya. Pengantin perempuan mencuci kaki pengantin laki-laki dengan menggunakan air dicampur dengan bermacam-macam bunga. Itu mengartikan, bahwa pengantin laki-laki siap untuk menjadi ayah serta suami yang bertangung jawab dan pengantin perempuan akan melayani setia suaminya.
9.      Upacara Pupuk
Ibu mempelai perempuan yang mengusap mempelai laki-laki sebagai tanda ikhlas menerimanya sebagai bagian dari keluarga.
10.   Upacara Sinduran
Berjalan perlahan-lahan dengan menyampirkan kain sindur sebagai tanda bahwa kedua mempelai sudah diterima sebagai keluarga.
11.   Upacara Timbang
Kedua mempelai duduk di pangkuan bapak mempelai perempuan sebagai tanda kasih sayang orang tua terhadap anak dan menantu sama besarnya. Orang tua tidak akan membeda-bedakan antara anak menantu dan anak sendiri, semua dianggap sebagai puteranya sendiri.
12.   Upacara Kacar-kucur
Kacar-kucur yang dituangkan ke pangkuan perempuan sebagai simbol pemberian nafkah. Komunikasi yang menggambarkan bahwa seorang laki-laki mempunyai kewajiban menyerahkan semua hasil usahanya kepada istrinya, dan istri harus dapat memgelola penghasilan suaminya untuk keperluan keluarganya.


13.   Upacara dahar kembul
Pasangan pengantin makan bersama dan menyuapi satu sama lain. Pertama, pengantin laki-laki membuat tiga bulatan kecil dari nasi dengan tangan kanannya dan diberinya ke pengantin wanita. Setelah pengantin wanita memakannya, dia melakukan sama untuk suaminya. Setelah mereka selesai, mereka minum teh manis. Upacara itu melukiskan bahwa pasangan akan menggunakan dan menikmati hidup bahagia satu sama lain. Saling menyuapi satu sama lain yang melambangkan kedua mempelai akan hidup bersama dalam susah dan senang
14.   Upacara Mertui
 orang tua mempelai perempuan menjemput orang tua mempelai laki-laki di depan rumah untuk berjalan bersama menuju tempat upacara. Hak ini melambangkan bahwa keluarga laki-laki dan keluarga perempuan telah menjadi besan (keluarga) dan bersama-sama menyaksikan dan member doa restu untuk kebahagiaan kedua putra mereka
15.   Upacara sungkeman
Kedua mempelai bersujut kepada kedua orangtua untuk mohon doa restu dari orangtua mereka masing-masing. Pertama ke orangtua pengantin wanita, kemudian ke orangtua pengantin laki-laki. Selama Sungkeman sedang berlangsung, Pemaes mengambil keris dari pengantin laki-laki. Setelah Sungkeman, pengantin laki-laki memakai kembali kerisnya.
Prosesi ini sebagai pengingat pada temanten putri, supaya selalu berbakti kepada mempalai pria. Sebaliknya temanten putra supaya mempunyai rasa melindungi (hangayomi) dengan memberi contoh tindak-tanduk yang baik kepada  temanten putri.
16.   Pesta pernikahan
Setelah upacara pernikahan selesai, selanjutnya diakhiri dengan pesta pernikahan. Menerima ucapan selamat dari para tamu dan undangan. Mungkin ini bagian dari kebahagiaan ke dua mempelai dengan para tamu, keluarga serta para undangan.  Prossi ini sebagai penanda supaya perkawninan kedua mempelai disaksikan dan diakui oleh masyarakat lingkungannya.
E.       Manfaat yang Diperoleh
Manfaat yang diperoleh dengan mengadakan komunikasi ritual  upacara perkawinan adat Jawa adalah sebagai berikut:
1.    Mendapatkan ketenangan
Pelaku ritual upacara perkawinan pada dasarnya adalah ungkapan doa agar apa yang dilakukan mendapat ridho dari pencipta. Dengan simbol-simbol permohonan tersebut pelaku berharap apa yang dicitakan akan terwujud. Dengan demikian setelah pelaku melaksanakan akan mendapatkan tetenangan karena ia merasa telah berusaha untuk mencapai yang dia citakan.
2.    Mendapatkan pengakuan
Pelaku komunikas ritual upacara perkawinan mendapatkan pengakuan dari masyarakat  bahwa si pelaku telah memasuki tahapan hidup baru yaitu hidup berpasangan (berkeluarga) sehingga pasangan masing-masing akan diterima di komunitas masyarakat sekitarnya.
3.    Pelastarian budaya,
Mereka yang berpartisipasi dalam bentuk komunikasi ritual tersebut menegaskan kembali komitmen mereka kepada tradisi keluarga, suku, bangsa, idiologi dan agama mereka.
4.    Mengenalkan diri sendiri,
Dengan melaksanakan komunikasi ritual upacara perkawinan pelaku akan dikenal oleh masyarakat  di lingkungannya bahwa yang bersangkutan telah berkeluarga. Pasangan yang semula belum dikenal oleh masyarakat di sekitarnya menjadi diketahui sehingga tidak menimbulkan kecurigaan.
5.    Dapat menyampaikan pikiran atau perasaannya
6.    Tidak terasing atau terisolasi dari lingkungannya
F.     Faktor Pendorong
Faktor yang mendorong orang melakukan komunikasi ritual upacara perkawinan dengan adat Jawa adalah:
1.    Keinginan untuk mendapatkan doa dan restu agar perkawinan yang dilaksanakan dapat berjalan sesuai yang diinginkan dan kelak kebahagian dapat mereka raih.
2.    Keinginan untuk mengaktualisasi diri dengan harapan mereka diterima sebagai anggota dari kelompok masyarakat dimana mereka tinggal.
3.    Keinginan untuk melestarikan budaya dari peninggalan para pendahulu mereka supaya tetap eksis di masyarakat.
4.    Untuk memperoleh pengakuan di masyarakat bahwa mereka telah berpasangan.
5.    Kepercayaan terhadap agama, mistis, dan budaya yang mereka anut.
G.    Kesimpulan
Komunikasi ritual sangat erat kaitannya dengan budaya yang ada masyarakat. Pada prosesi upacara perkawinan adat jawa tahap demi tahap merupakan wujud komunikasi, yang erat kaitannya dengan simbul-simbul baik berupa benda, perbuatan, ataupun kata-kata, yang disampaikan dengan harapan tertentu. Mereka mengharapkan sesuatu dari upacara ritual yang dilaksanakan.
Kegiatan komunikasi ritual memungkinkan para pesertanya berbagi komitmen emosional dan menjadi perekat bagi keterpaduan mereka.Yang menjadi esensi bukanlah kegiatan ritualnya, akan tetapi adanya perasaan senasib sepenanggungan yang menyertainya, artinya adanya perasaan bahwa kita terikat oleh sesuatu yang lebih besar dari diri kita, dan bahwa diri kita diakui dan diterima oleh kelompok kita.
Komunikasi ritual ini bisa jadi akan tetap ada sepanjang zaman, karena ia merupakan kebutuhan manusia, meskipun bentuknya berubah-ubah demi pemenuhan kebutuhan dirinya sebagai mahluk individu, anggota komunitas tertentu, mahluk sosial, dan sebagai salah satu bagian dari alam semesta.
Pelaku komunikasi ritual upacara perkawinan adat Jawa  yang merupakan warisan leluhur mereka harus dapat mereka lestarikan. Komunikasi ritual yang terkait dengan kebudayaan dan langkah-langkah pelestariannya harus terus meraka  galakkan dan satu hal yang paling penting yang harus kita catat kita harus bisa menanamkan kesadaran kepada setiap individu bahwa kebudayaan yang kita nikmati sekarang harus pula dinikmati oleh anak cucu kita kelak dimasa yang akan datang.















DAFTAR PUSTAKA


Cangara, Hafied, Prof, Dr. 2008. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: PT. Raja Grafindo.

Erpina, Epi dkk. 2009. Macam-Macam Komunikasi. Makalah. Bogor: Univeritas Ibn Khaldun Bogor.

http://sukolaras.wordpress.com (12 Oktober 2009) Prosesi Pernikahan Adat Jawa

Mulyana, Akhmad. 2008. Pengantar Ilmu Komunikasi. Modul. Jakarta: Fakultas ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana Jakarta.

Mulyana, Deddy. 2002. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Padje, Gut Reacht Hayat. 2008. Komunikasi Kontemporer: Strategi, Konsepsi, dan Sejarah. Kupang: Universitas PGRI NTT.

Riswandi. 2008. Pengantar Ilmu Komunikasi. Modul 2. Jakarta: Fakultas ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Comment Anda: